Sepotong

Surat

Tanpa Alamat

Dear Nadia,

Bagaimana kabarmu sekarang? Bagaimana juga dengan sakit kepalamu yang sering timbul menjelang ujian itu? Dan flu yang sering kau mintakan obatnya padaku? Semoga kau sehat-sehat saja, Nadia. Karena sudah lama kita tak berjumpa, meski hanya lewat mimpi.

Nadia, masihkah kau mengenakan rok panjang dan membiarkan rambut panjangmu tergerai? Membawa tas kecil, sepotong sapu tangan merah dan bersikap ramah seperti saat pertama kali kita jumpa? Maaf, jika aku bertanya yang tidak-tidak. Hanya saja cuma itu yang bisa aku ingat darimu, selain harum Samsara yang kau pakai. Karena sudah lama kita tidak berjumpa, meski hanya lewat mimpi.

Nadia, mungkin kau tengah memakai mantel tebal, atau bersyal hangat, ketika menerima suratku ini. Karena yang aku tahu, tanah tempatmu berada kini telah terselimuti kapas putih, dan secangkir kopi panas jadi menu wajib sehari-hari. Tapi bisa saja semua itu hanya ada di bayanganku saja, karena mungkin suratku akan sedikit terlambat beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan, atau bahkan beberapa tahun. Atau malah mungkin kau takkan pernah menerima suratku ini, Nadia.

Aku ada disini Nadia,
Mencoba menulis surat ditempat dimana kau pernah memesan sebuah kelapa muda, dengan dua sedotan bersamanya. Dan kini aku tengah memandang senja di batas cakrawala, beserta mega yang berarak diatasnya. Merasakan hembusan udara yang belum terkotori ampas manusia, sambil mendengarkan suara ombak yang pecah menerpa karang. Memesan sebuah kelapa muda, hanya saja dengan satu sedotan di atasnya. Mencoba menghilang dari hiruk pikuk kota, untuk kembali mengisi jiwa. Jiwa yang tengah didera hampa.

Orang-orang hilir mudik didepanku, Nadia. Entah darimana dan mau kemana. Semuanya terlihat sibuk dengan dunianya sendiri. Seorang anak kecil dengan istana pasirnya, seorang kakek renta dengan sampannya, seorang wanita muda dengan krim matahari-nya, seorang pria dengan anjing Saint Bernard kesayangannya, sepasang kekasih yang saling berkejaran tak tentu arah.

Seseorang, seseorang, seseorang. Berpuluh-puluh seseorang. Tapi tak kukenal seorangpun dari wajah-wajah mereka, Nadia. Mungkin mereka semua sama denganku. Mencoba menjauh dari gemerlap cahaya kota, dengan menyepi di bawah temaramnya senja. 

Nadia, aku masih ingat ketika suatu kali kau bercerita, yang katamu sebuah kisah nyata. Tentang manusia yang ingin melihat keindahan dunia dari atas sana, dan akhirnya bermimpi tentangnya. Dimana dalam mimpinya ia bersayap dan mampu terbang melayang diantara awan. Melihat berbagai keindahan dunia, sampai timbul keinginan untuk melihat dunia dari tempat yang lebih tinggi lagi. Lebih tinggi dari gunung yang paling tinggi. Cukup tinggi, sampai ia bisa melihat keindahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun terkadang angin di bawah kuatnya tidak seberapa bila dibandingkan dengan angin di atas sana. Diapun terjatuh, jatuh yang sakitnya tidak seberapa namun lukanya masih ada. Masih tetap ada hingga dia terbangun dari tidurnya. Dan tahukah kau, Nadia? Kini aku percaya dengan ceritamu itu. Karena aku sendiri mengalaminya.

Nadia, Nadia, Nadia…

Kadang aku masih bertanya-tanya, Nadia.
Bertanya akan makna dari lilin-lilin yang menyala di atas meja, secangkir kopi hangat yang kau pesan, percakapan yang kadang tersela, dan lagu yang kau pilih pada jukebox disamping meja. Bertanya akan makna bisikan, tawa kecil, senyum simpul dan pandangan mata. Bertanya akan makna sebuah kata, ‘cinta’.

Mungkin aku terlalu larut oleh perasaan, atau mungkin juga tidak. Mungkin aku terlalu banyak bernostalgia, hingga melupakan semuanya. Melupakan dunia dimana seharusnya aku berada. Mungkin saat ini seharusnya aku berada di belakang meja, berada diatas kursi empuk dan menghadapi tumpukan kertas-kertas kerja. Menandatangani berkas-berkas proyek yang dibiayai oleh PMA, menyundut sebatang rokok, dan, mungkin, memutar keras-keras CD The Adams. Dengan lagunya yang ‘Konservatif’, mungkin.

Mungkin, mungkin, dan mungkin. Terlalu banyak kemungkinan memang dalam hidup ini, Nadia. Dari kemungkinan terburuk, sampai yang terbaik. Dari kemungkinan untuk terjatuh dalam kesalahan, hingga kemungkinan untuk berhasil memperbaikinya. Dari kemungkinan satu, sampai kemungkinan yang lain. Begitu banyak kemungkinan, namun hanya sedikit yang berupa kepastian. Yang pasti mungkin hanyalah masa lalu. Dan masa laluku telah terkubur, entah kemana, bersama pasir pantai yang tersapu ombak ke tengah samudera.

Aku masih disini Nadia,
Masih ditempat dimana kau dulu pernah bersandar di bahuku, untuk akhirnya tertidur didalam pelukan. Dan sekarang aku tengah memandangi senja yang semakin lama semakin kelam, tertutup tirai hitam yang turun ke atas panggung cakrawala. Merebahkan diri di atas hamparan pasir putih, sambil sesekali mengecek hp-ku. Siapa tahu ada pesan dari kantor. Tapi, sejujurnya akupun tak akan menghiraukannya kalaupun ada. Biarlah hari ini aku disini. Memikirkan tentang diriku sendiri, dan sejenak melupakan orang lain. Memikirkan apa yang telah aku lakukan, yang sedang aku lakukan, dan yang akan aku lakukan. Memikirkan ke mana arah hidupku akan berjalan.

Kini, orang-orang yang tadi ada depanku itu telah menghilang dari tempatnya, Nadia. Sepertinya mereka semua telah mendapatkan belahan jiwanya. Pulang kerumah masing-masing dengan tawa lepas dan perasaan lega. Mungkin,  mereka semua kini sedang bergembira bersama kedua orang tua, sanak saudara, kucing kesayangan, atau mungkin kekasih tercinta. Dan yang tertinggal kini hanyalah kenangan, yang cuma bisa diingat, tanpa bisa terulang.

Yang ada di dekatku kini hanya seorang wanita dengan lentera. Mencoba memberiku secercah cahaya, diantara pekatnya malam. Mengajakku pergi dari kesendirian, untuk kembali ke keramaian. Cahaya yang, percayalah, hangatnya dapat aku rasa, walau tidak pernah aku meminta.

Tapi aku belum mau pulang. Setidaknya bukan sekarang. Tidak dengannya, orang kantor, ataupun juga dengan kau, Nadia, jika kau bertanya. Belum, belum saatnya. Mungkin belum saatnya. Saat ini aku masih ingin disini, mencari-cari sesuatu yang masih belum aku temukan jawabannya. Aku masih ingin menikmati kesendirianku, mendengarkan suara hati yang telah lama tertutup nafsu. Merebahkan diri di atas pasir, memandang jauh ke atas langit. Berharap menemukan bintang jatuh, hingga permintaanku dapat terkabul. Saat ini aku masih ingin disini, sendiri.

 Depok, 15 oktober '05
                                                                                                            23:07
 

                            

 Negeri Senja

Pernah seorang temanku bermimpi akan sebuah negeri
Negeri dimana mega selalu ada, karena matahari menggantung abadi di ufuk sana..
Negeri dimana manusia tak pernah tua, karena perubahan hanya jadi sebuah kata..
Negeri dimana semua manusia, jujur dalam berkata..

Dalam mimpinya, negeri itu lalu lenyap seketika
Tergantikan oleh hutan belantara kota dan hiruk pikuk dari hewan-hewan beroda..
Bintang-bintangpun turun ke bumi, menemani mereka yang sedang mencari jiwanya 
Orang-orang terlihat saling menyapa, penuh puji dan puja.. namun sayang tak bermakna..

Semua itu hanyalah sampah..
dan dilihatnya semua orang telah berubah..

Ia pun terbangun dari mimpinya

Kata temannya, cepat atau lambat kita semua akan berubah
"Perubahan itu hanya soal waktu. Dan yang takut hanyalah cecurut," katanya..
Namun temannya juga bilang kalau hidup ini adalah sebuah pilihan..
Sebuah pilihan.. seperti jalan di persimpangan..

Lalu kutanya dia,
"Jadi, jalan mana yang kan kau pilih teman?"

Ia hanya terdiam
Yang ia lakukan hanya memalingkan wajahnya ke atas.. ke arah langit barat sana..
Auranya berubah kelu melihat mega yang mulai menghilang,
seiring matahari yang mulai tenggelam..

Lalu tak sengaja kulihat sorot matanya..
Semakin lama semakin meredup..
Sepertinya aku tahu jawabanmu teman..

Andai saja negeri itu ada..


    Pernahku bermimpi akan sebuah negeri..
    Negeri dimana mega selalu ada, karena matahari menggantung abadi di ufuk sana..
    Negeri dimana manusia tak pernah tua, karena perubahan hanya jadi sebuah kata..
    Negeri dimana semua manusia, jujur dalam berkata..
    Negeri senja



[terinspirasi oleh iklan dari surat kabar nasional dan sebuah novel dengan judul yang sama]

ditemani oleh hawa yang udah nggak sedingin dulu lagi..
Kota Kembang,
240705

Alhamdulillah..


        Akhirnya, selesai juga cerpen (not another) chicklit ini haha.. Ternyata lumayan susah juga bikin ‘cerpen-cerpenan’ tu..


        Pertama, cerita ini hanya sebuah roman metropolitan.. Seperti kata Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya 'Jazz, Parfum & Insiden' (yg juga menginspirasikan gw dalam hal judul) di cover belakang:


                                  Mau dianggap fiksi boleh

                          mau dianggap fakta terserah

             --ini cuma sebuah roman metropolitan


        Kedua, terima kasih gw buat semua yang sudah sudi meluangkan waktunya untuk membaca tulisan yang penting gak penting ini.. maaf, kalau misalnya ada salah-salah kata yang akhirnya menyinggung perasaan bpk/ ibu/ saudara/ mbak /mas/ akang/ teteh/ ses/ om/ tante.. buat komputer gw yang selalu setia menampung segala curhatan gw.. sang keyboard yang gak pernah marah pas gw teken beberapa kali tuts-nya dengan cukup keras.. suara seksi Diana Krall dari CD ‘The Best of Jazz Collections Vol 1’-nya temen gw, Mufty, yang setia menemani (CD2 lo masih ada di gw, 2 lagi!).. buat mata kuliah Bimen yang sepertinya berhasil membuka mata, hati (dan tangan) gw buat mulai menulis.. or whatever.. Thanks alotta..

Malam itu terasa sangat sepi, tidak seperti biasanya.

Yang ada hanya sekumpulan jangkrik malam. Mereka bernyanyi.

Jauh dibalik jendela, pohon-pohon juga kegirangan. Mereka bernapas.

Suara mereka terdengar cukup nyaring, hanya saja sepi masih terasa.

Sepi itu mulai sirna ketika speaker tua didepan secangkir kopi panasku mulai ikut bersua..

“I took the good times..

  I'll take the bad times..

  I want you just the way you are..”

(Just The Way You Are – Diana Krall)                            

 

waiting.. for your critics..

<<psikopat_04@yahoo.com>>

Jazz, Monorel, Sudirman, Maliq & The Essential..

- Part II -

 


            …

Maliq ya?,” kata gw.

“He-eh,” jawab teman disebelah gw yang sedang menyetir, sambil memasangkannya ke dalam tape.

Dan ‘perjalanan spiritual’ kami pun dimulai kembali..

 

* * *

 

Macet? Sudah lupa tuh. Sedikit plesetan dari jargon sebuah obat batuk itu sepertinya cocok dengan yang sedang kami rasakan. Ditemani hentakan beat-beat ringan dari Maliq, tanpa terasa tibalah di sebuah jalan yang diberi nama Sudirman. Entah oleh siapa, pastinya Ia seorang pengagum Jenderal Besar yang bahkan ketika sakit pun masih tetap berjuang ini. Seperti namanya, secara harfiah jalan itu memang ‘besar’. Besar, karena kurang lebih enam buah jalur yang ada, relatif sangat lebar. Jalan inipun ‘besar’ dalam artian telah tumbuh menjadi salah satu kawasan elit yang ada di Jakarta. Bangunan-bangunannya yang kebanyakan berasal dari era megalitikum, tinggi dan besar, juga mempertegas 'kebesaran' dari jalan ini.

Tiba-tiba dijalan itu sesuatu yang tidak biasa terjadi. Ajaib, lebih tepatnya. inilah kelebihan dari Jazz. Lahir di New Orleans, Amerika, sebagai bentuk 'kemerdekaan' dari keterbudakan, musik ini tentu saja diisi oleh raungan akan kebebasan. ‘Kebebasan’ yang diwujudkan dalam wujud permainan yang tidak saling ‘menjajah’ satu sama lainnya. Dimana setiap personel memiliki ‘kemerdekaannya’ sendiri-sendiri untuk bebas berimprovisasi. 'Kemerdekaan' itupun ternyata sampai juga disini. Didalam mobil Jazz ini.

Keajaiban itu sebenarnya mulai muncul ketika track ke-4, “Blow My Mind” menggaung. Entah bagaimana, pembicaraan kami mulai ngalor-ngidul kemana-mana. Dari mulai Miss Indonesia asal Fisip yang sempat berkenalan dan gw foto, sampai masalah... Dari ipod-nya apple yang harganya jutaan, sampai Apple Mac G4 yang hampir semua desainer grafis kepingin... Dari... Semua hal yang bersifat duniawai kami babat habis sepertinya disini. Keterbuaian kami ini pada akhirnya hampir saja membuat celaka. Sebuah bus Maya Sari Bhakti hampir kami 'goda'. Alah, maksudnya kami tabrak. Untuk sesaat pikiran-pikiran tersebut kami repress ke alam bawah sadar. Namun hal ini tidak dapat bertahan lama ternyata.

 

* * *

 

Kamipun sampai di track ke-15. Sebuah untitled track. (Yang belakangan gw tau klo judulnya adalah 'Ketika', bukan ‘Lagunya Asoy’ seperti yg selama ini gw liat didalam playlist winamp gw –dan teman-teman gw di kampus). Bait pertama pun mengalun keluar..

“Ketika.. kurasakan sudah.. ada ruang di hatiku yang kau sentuh..

dan ketika.. kusadari sudah.. tak selalu indah cinta yang ada..

mungkin memang ku yang harus mengerti..

bila ku bukan yang ingin kau miliki..

salahku bila, kaulah yang ada di hatiku…”

(Entah apa karena lagunya yang memang begitu menohok atau emang kami ini sekumpulan orang-orang yang sensitif? haha..'-_-) Untuk sesaat, aura yang kami rasakan sangat berbeda. Suasana di dalam mobil tiba-tiba berubah menjadi hening. Ya, sangat hening.. Secepat inikah mood kami berubah hanya karena sebuah lagu yang bahkan baru pertama kali kami dengar?

Kami semua terdiam.. terpaku didalam keheningan. Jalanan yang lengang, hawa dingin dari AC yang menusuk tulang, dan langit yang masih gelap seperti mempersilahkan lampu-lampu jalan untuk menghangatkan kami yang tengah didera kedinginan. Juga dalam keheningan malam. Bintang-bintang yang mengintip diatas sana pun juga seperti tak kuasa menandingi gemerlapnya cahaya dari kanan dan kiri jalan.

Kami semua seperti dibawa untuk mengingat kembali semua kenangan di masa lalu. Dari kenangan akan PSAU yang begitu menyenangkan, sampai bayangan rambut hitam panjang dari seorang wanita yang cukup menyakitkan. Gw bahkan sampai harus mengingatkan teman yang duduk di sebelah untuk tidak ‘terbuai’ lagi untuk yang kedua kalinya.

Tidak terhitung telah berapa kali kami memutar bolak-balik lagu-lagu yang ada dalam CD. Dan anehnya, kami masih juga ‘terbuai’ oleh lagu-lagu tersebut. Namun, dalam setiap pertemuan pasti juga ada perpisahan. Dan akhir itu ada di Tanjung Barat.

 

* * *

 

Sorot lampu merah itu tiba-tiba menyilaukan kami. Sedikit membangunkan kami dari ’tidur panjang’ yang kami rasakan. Kami terkesiap. Sebuah suara tiba-tiba terdengar. Sayup-sayup semakin lama semakin nyaring terdengar. Suara yang sepertinya bukan dari ‘alam’ yang sedang kami nikmati ketika itu. Dan kata-katanya pun kami yakin bukan bagian dari lagu yang sedang kami dengar. Suara yang sepertinya pernah kami dengar dan kami kenal. Kami ‘kenal,’ karena begitu dekat dengan kehidupan kami sehari-hari. Kami bisa mendengar suara-suara itu di perempatan jalan, kereta api, halte bikun, bahkan di kantin fakultas kami. Suara yang.. ah, sebenarnya tidak mau kami dengar, tapi merupakan realitas yang harus kami hadapi dan kalau bisa.. tunggu, bukan kalau bisa, harus bisa kami ‘hilangkan’ dari soundtrack dunia ini..

Suara itu ternyata berasal dari balik kaca jendela. Keluar dari sepasang bibir yang sudah tampak mengering dari seorang wanita yang sudah tidak muda lagi. Berpakaian kumal, sambil sibuk menggendong seorang bayi di tangan kirinya dan sebuah gelas plastik di tangan kanannya. Ia tengadahkan tangan kanannya. Bibirnya masih mengeluarkan suara-suara tersebut, berharap kami memberi mereka sedikit ‘kesenangan fana’ yang telah kami rasakan sebelumnya. Dalam 'keterbuaian' kami. Sejenak kami terdiam..

Alhamdulillah..

Guys, selamat datang (kembali) di dunia fana (yang nyata)!



 

 

* FIN *

 

ah lieur aing mah euy di Jakarta!” = “aduh, pusing gw mah di Jakarta!”

(kali aja ada yg gak ngerti bahasa indonesianya..)

 

Entah saya harus bilang apa. Apakah semua perjalanan spiritul itu terjadi karena pengaruh dari suasana belaka yang memang sangat mendukung.. mood kami yang memang sedang ‘kacau’ saat itu.. ataukah, meminjam teorinya Freud, sebagai tekanan dari alam bawah sadar untuk memunculkan kembali hal-hal di masa lalu yang telah di-repress?

Semua yang terjadi ketika itu masih berupa ketidakpastian..

Mungkin, cuma satu hal yang pasti,

Maliq & The Essential,

really can ‘blow your mind’.. haha


 

*Penulis adalah Mahasiswa Semester 2 di Fakultas Ilmu Jiwa Universitas Negeri Depok

Lahir dan besar di Kota Kembang dan kini tinggal (baca: ngasrama) di Kota Idaman

 

 


                       Jazz, Monorel, Sudirman, Maliq n d' Essential..

                                            oleh Aris Azhari Gunawan*


Sent:
26-Mar-2005
14:21:58


bro, lu lg di
asrama ga? Gw hari ini mo ke jkt
ngambil
komputer,lo mo
ikt ga?


Kipas angin merek Maspion itu kini terlihat seperti baru lagi. Debu-debu yang kemarin masih terlihat jelas kini seakan segan untuk nempel kembali. Hari Sabtu itu gw memang lagi kosong, ga ada kerjaan. Pengen belajar, bosen (haha..); mau maen keluar, lagi ga ada duit.. Ya udah, jalan deh rencana dari 2 minggu kemarin buat ngebersihin kamar dan segala perabotannya itu.

Belum sempat beralih ke perabotan lainnya, tiba-tiba sesosok ‘penampakan’ berwujud pria gundul berkacamata muncul di depan pintu.. Ternyata temen gw dari kota yang katanya sering ‘ngirim’ banjir ke Jakarta.

“Bro, jadi ikut?” sambil tetap memasang earphone dari HP dikedua telinganya yang gw yakin ‘isinya’ Prambors.

“Eh.. cepet banget datengnya. Baru aja gw terima sms dari lu,” sahut gw.

“Hehe..tadi gw nge-sms lu pas gw udah nyampe di asrama. Gimana, jadi ga? Yah, sekalian refreshinglah.. sebelum mid-test ntar Senen. Jangan belajar aja lu ah! Basi gheto loh!”

“Haha.. bisa aja lu. Sip-sip!! Kali aja ada pemandangan asyik di jalan,” jawab gw tanpa pikir panjang lagi.

Akhirnya rencana gw hari itu buat bersih-bersih kamar, terpaksa harus gw cancel (lagi). Yah, gpp lah, besok juga bisa dilanjutin, kan besok masih libur.. kata gw dalam hati (yang ternyata baru kesampaian 3 minggu kemudian..)

Hari itu ternyata kita berangkat bertiga, bersama seorang ‘psikopat’--sebutan buat anak-anak UI psikologi dua ribu empat--juga yang sekarang sedang beralih profesi jadi ‘juragan jaket’. ‘Juragan jaket’, karena manusia inilah yang nge-handle urusan jaket angkatan fakultas gw. Salut deh, salut gw sama otak bisnisnya hehe.. Singgah sebentar di Kober untuk mengambil uang teman gw yang dari Bogor, kami pun langsung meluncur ke Jakarta.

Main quest kami akhirnya selesai. Segera kami pun meluncur dari Mall Ambassador, tempat kami mengambil komputer, bersama CPU yang telah diperbaiki untuk kembali pulang. Pulang ke kota dimana kami, tiga ‘makhluk hidup yang rasional dan berindera’, menghabiskan sebagian besar dari hidup kami untuk belajar, menuntut ilmu (dan juga nyap-sah).. Depok, ‘Kota Idaman’..

Jam di mobil yang kini tengah stuck, ditengah kemacetan, masih menunjukkan pukul empat lebih sedikit. Masih sore sebenarnya, tapi langit waktu itu sudah kelihatan seperti langit diwaktu malam, hitam kecoklatan. Sedikit mirip warnanya dengan kue brownies a la Kartika Sari, kata gw sambil membayangkannya..hmm.. Hff.. kali ini gw menghela napas dan sedikit mengerutu. Bayangan kue brownies kini telah terganti oleh hujan, petir, dan badai. Sepertinya tinggal masalah waktu saja hujan datang. Terlihat di langit, awan-awan seperti tidak mampu lagi menahan air yang ‘ingin’ segera kembali ke bumi. Ternyata tebakan gw benar, beberapa tetesan air hujan terlihat mulai mengenai dan membasahi beberapa bagian dari kaca depan mobil.

“Untung bawa mobil, hujannya bakal gede baget nih,” kata temen gw, ‘juragan jaket’, yang duduk di kursi belakang.

“Iya,ya..” sahut gw sambil memperhatikan orang-orang dibalik kaca yang berlarian mencari tempat berteduh. Kami masih beruntung, kata gw dalam hati.

Disaat hujan itu, satu-satunya hiburan di dalam mobil berwarna blue pearl yang kami tumpangi itu ialah sebuah tape bermerek JVC. Merek yang hampir menghiasi semua mobil Jazz lain yang ada di jalan. Dari dalam benda berfasad persegi dan berwarna perak itulah dua penyiar Prambors terdengar masih asyik-masyuk ngoceh kesana kemari. Banyolan-banyolan yang gak jelas maksudnya, satu-dua kali muncul dalam obrolan mereka sore itu. Kaya proyek busway yang mulai gak jelas arahnya kemana ‘^_^

Pukul enam lebih sedikit, tanda-tanda bila kemacetan mulai reda akhirnya muncul. Namun untuk masalah hujan, tanda yang kami tunggu itu masih juga belum muncul. Sepertinya kami harus lebih bersabar. Satu-persatu kendaraan lain yang selama kemacetan setia menemani, perlahan-lahan mulai meninggalkan kami. Baru gw sadari, sudah hampir dua jam kami terjebak dalam kemacetan. Melelahkan. Mentally and physically..

“Sudah biasa kali, macet di kota sebesar Jakarta gini mah,” terdengar lagi suara dari belakang kursi gw.

“Ah, lieur aing mah euy!” sundanese gw akhirnya keluar.

Sepertinya ia kasihan melihat muka gw yang sedikit.. bt (?). Bener juga kata dia.. Ya udahlah gw ambil positifnya aja, yang penting kini kami bisa lebih leluasa melihat keindahan kota Jakarta tanpa terganggu sama yang namanya macet, batin gw dalam hati. Suara batin yang kemudian membawa gw ke perjalanan spiritual gw yang pertama..

Harapan gw untuk segera melihat keindahan itu ternyata dikabulkan begitu cepat. ‘Keindahan’ yang berupa batang-batang pohon yang telah habis ditebang. Catat: dibabat, bukan dipindahkan seperti yang selama ini dijanjikan dan ditulis di koran-koran. ‘Keindahan’ itu tepat di atas lahan yang kalau tidak salah merupakan area proyek ambisius.. monorel. Mata gw terpaku beberapa saat melihat pepohonan yang kini kira-kira tinggal setinggi betis itu. Gw perhatikan diameternya, dan bisa gw pastikan kalo umur mereka jauh lebih tua dari ‘bang gubernur’ yang memerintahkan penebangan terhadap mereka.. Ironis. Kalau benar itu terjadi karena imbas dari proyek tersebut, sungguh sangat ironis.. disaat segelintir manusia menginginkan ‘kemajuan’ dalam hal ‘peradaban’, ternyata sesuatu yang disebut dengan ‘kemajuan’ itu harus dicapai dengan cara mengorbankan ‘peradaban’ yang lain.. Tiba-tiba pikiran gw menerawang jauh. Gw menghela napas cukup panjang.. suka atau tidak suka, ya inilah dia.. potret wajah ibukota kita. Wajah yang terus mempercantik diri dengan alas bedak berupa beton tumbuk, maskara berupa limbah pabrik, perhiasan yang berupa papan-papan billboard berukuran besar yang bertebaran disepanjang jalan.. dan mungkin sedikit tindikan di daerah tertentu berupa kehidupan malam. Yah, inilah dia.. kota yang dengan kemolekannya, telah membuat banyak orang jatuh terlena.. Dan gw pun hanya bisa melakukan serendah-rendahnya iman gw.. berbuat dengan hati, berdoa..

Lelah akan pergumulan dengan batin sendiri di ‘dunia idea’, gw pun berusaha kembali ke ‘dunia jasmani’. Radio yang sejak awal perjalanan menemani kami, kini sudah terasa mulai membosankan. Untungnya, sebuah CD dari grup musik yang bisa disebut beraliran apa ya? jazz mungkin, kebetulan ada di dalam mobil. Tergolek tanpa daya disebelah rem tangan yang sedang dalam keadaan bebas.

Maliq ya?,” kata gw.

“He-eh,” jawab teman disebelah gw sambil membuka tempat CD dan memasangnya di tape.

Dan ‘perjalanan spiritual’ kami pun dimulai..


Bersambung..

*Penulis adalah Mahasiswa Semester 2 di fakultas Ilmu Jiwa Universitas Negeri Depok
Lahir dan besar di Kota Kembang dan kini tinggal (baca:ngasrama) di di Kota Idaman