Sepotong
Surat
Tanpa Alamat
Dear Nadia,
Bagaimana kabarmu sekarang? Bagaimana
juga dengan sakit kepalamu yang sering timbul menjelang ujian itu? Dan flu yang
sering kau mintakan obatnya padaku? Semoga kau sehat-sehat saja, Nadia. Karena
sudah lama kita tak berjumpa, meski hanya lewat mimpi.
Nadia, masihkah kau mengenakan
rok panjang dan membiarkan rambut panjangmu tergerai? Membawa tas kecil,
sepotong sapu tangan merah dan bersikap ramah seperti saat pertama kali kita
jumpa? Maaf, jika aku bertanya yang tidak-tidak. Hanya saja cuma itu yang bisa
aku ingat darimu, selain harum Samsara yang kau pakai. Karena sudah lama kita
tidak berjumpa, meski hanya lewat mimpi.
Nadia, mungkin kau tengah
memakai mantel tebal, atau bersyal hangat, ketika menerima suratku ini. Karena yang
aku tahu, tanah tempatmu berada kini telah terselimuti kapas putih, dan secangkir
kopi panas jadi menu wajib sehari-hari. Tapi bisa saja semua itu hanya ada di bayanganku
saja, karena mungkin suratku akan sedikit terlambat beberapa hari, beberapa minggu,
beberapa bulan, atau bahkan beberapa tahun. Atau malah mungkin kau takkan
pernah menerima suratku ini, Nadia.
Aku ada disini Nadia,
Mencoba menulis surat ditempat
dimana kau pernah memesan sebuah kelapa muda, dengan dua sedotan bersamanya. Dan
kini aku tengah memandang senja di batas cakrawala, beserta mega yang berarak
diatasnya. Merasakan hembusan udara yang belum terkotori ampas manusia, sambil mendengarkan
suara ombak yang pecah menerpa karang. Memesan sebuah kelapa muda, hanya saja dengan
satu sedotan di atasnya. Mencoba menghilang dari hiruk pikuk kota, untuk
kembali mengisi jiwa. Jiwa yang tengah didera hampa.
Orang-orang hilir mudik
didepanku, Nadia. Entah darimana dan mau kemana. Semuanya terlihat sibuk dengan
dunianya sendiri. Seorang anak kecil dengan istana pasirnya, seorang kakek
renta dengan sampannya, seorang wanita muda dengan krim matahari-nya, seorang
pria dengan anjing Saint Bernard kesayangannya, sepasang kekasih yang saling
berkejaran tak tentu arah.
Seseorang, seseorang,
seseorang. Berpuluh-puluh seseorang. Tapi tak kukenal seorangpun dari
wajah-wajah mereka, Nadia. Mungkin mereka semua sama denganku. Mencoba menjauh
dari gemerlap cahaya kota, dengan menyepi di bawah temaramnya senja.
Nadia, aku masih ingat ketika suatu
kali kau bercerita, yang katamu sebuah kisah nyata. Tentang manusia yang ingin
melihat keindahan dunia dari atas sana, dan akhirnya bermimpi tentangnya.
Dimana dalam mimpinya ia bersayap dan mampu terbang melayang diantara awan.
Melihat berbagai keindahan dunia, sampai timbul keinginan untuk melihat dunia dari
tempat yang lebih tinggi lagi. Lebih tinggi dari gunung yang paling tinggi. Cukup
tinggi, sampai ia bisa melihat keindahan yang tak pernah ia bayangkan
sebelumnya. Namun terkadang angin di bawah kuatnya tidak seberapa bila
dibandingkan dengan angin di atas sana.
Diapun terjatuh, jatuh yang sakitnya tidak seberapa namun lukanya masih ada. Masih
tetap ada hingga dia terbangun dari tidurnya. Dan tahukah kau, Nadia? Kini aku
percaya dengan ceritamu itu. Karena aku sendiri mengalaminya.
Nadia, Nadia, Nadia…
Kadang aku masih bertanya-tanya,
Nadia.
Bertanya akan makna dari
lilin-lilin yang menyala di atas meja, secangkir kopi hangat yang kau pesan, percakapan
yang kadang tersela, dan lagu yang kau pilih pada jukebox disamping meja.
Bertanya akan makna bisikan, tawa kecil, senyum simpul dan pandangan mata.
Bertanya akan makna sebuah kata, ‘cinta’.
Mungkin aku terlalu larut oleh
perasaan, atau mungkin juga tidak. Mungkin aku terlalu banyak bernostalgia,
hingga melupakan semuanya. Melupakan dunia dimana seharusnya aku berada.
Mungkin saat ini seharusnya aku berada di belakang meja, berada diatas kursi
empuk dan menghadapi tumpukan kertas-kertas kerja. Menandatangani berkas-berkas
proyek yang dibiayai oleh PMA, menyundut sebatang rokok, dan, mungkin, memutar keras-keras
CD The Adams. Dengan lagunya yang ‘Konservatif’, mungkin.
Mungkin, mungkin, dan mungkin.
Terlalu banyak kemungkinan memang dalam hidup ini, Nadia. Dari kemungkinan
terburuk, sampai yang terbaik. Dari kemungkinan untuk terjatuh dalam kesalahan,
hingga kemungkinan untuk berhasil memperbaikinya. Dari kemungkinan satu, sampai
kemungkinan yang lain. Begitu banyak kemungkinan, namun hanya sedikit yang
berupa kepastian. Yang pasti mungkin hanyalah masa lalu. Dan masa laluku telah
terkubur, entah kemana, bersama pasir pantai yang tersapu ombak ke tengah
samudera.
Aku masih disini Nadia,
Masih ditempat dimana kau dulu
pernah bersandar di bahuku, untuk akhirnya tertidur didalam pelukan. Dan sekarang
aku tengah memandangi senja yang semakin lama semakin kelam, tertutup tirai
hitam yang turun ke atas panggung cakrawala. Merebahkan diri di atas hamparan
pasir putih, sambil sesekali mengecek hp-ku. Siapa tahu ada pesan dari kantor.
Tapi, sejujurnya akupun tak akan menghiraukannya kalaupun ada. Biarlah hari ini
aku disini. Memikirkan tentang diriku sendiri, dan sejenak melupakan orang
lain. Memikirkan apa yang telah aku lakukan, yang sedang aku lakukan, dan yang
akan aku lakukan. Memikirkan ke mana arah hidupku akan berjalan.
Kini, orang-orang yang tadi
ada depanku itu telah menghilang dari tempatnya, Nadia. Sepertinya mereka semua
telah mendapatkan belahan jiwanya. Pulang kerumah masing-masing dengan tawa
lepas dan perasaan lega. Mungkin, mereka
semua kini sedang bergembira bersama kedua orang tua, sanak saudara, kucing
kesayangan, atau mungkin kekasih tercinta. Dan yang tertinggal kini hanyalah
kenangan, yang cuma bisa diingat, tanpa bisa terulang.
Yang ada di dekatku kini hanya
seorang wanita dengan lentera. Mencoba memberiku secercah cahaya, diantara
pekatnya malam. Mengajakku pergi dari kesendirian, untuk kembali ke keramaian.
Cahaya yang, percayalah, hangatnya dapat aku rasa, walau tidak pernah aku meminta.
Tapi aku belum mau pulang. Setidaknya
bukan sekarang. Tidak dengannya, orang kantor, ataupun juga dengan kau, Nadia,
jika kau bertanya. Belum, belum saatnya. Mungkin belum saatnya. Saat ini aku
masih ingin disini, mencari-cari sesuatu yang masih belum aku temukan
jawabannya. Aku masih ingin menikmati kesendirianku, mendengarkan suara hati
yang telah lama tertutup nafsu. Merebahkan diri di atas pasir, memandang jauh ke
atas langit. Berharap menemukan bintang jatuh, hingga permintaanku dapat
terkabul. Saat ini aku masih ingin disini, sendiri.
Depok, 15 oktober '05
23:07
Recent Comments